Home > Indahnya Mimpiku, kata-kata mutiara, Yang Datang dan Yang Pergi > Jogjakarta : Sebuah Cerita Persahabatan

Jogjakarta : Sebuah Cerita Persahabatan

Tugu Jogjakarta

Tugu Jogjakarta

Siang itu, Aku bersama tujuh temanku (Topik, Okir, Datuk, Yadi, Aris, Memed, Ucok) tiba di terminal Umbulharjo. Kami seperti narapidana yang mendapat surat bebas tahanan, kami bergegas turun dari bus yang telah mengurung dan mengguncang kami selama dua hari satu malam. Di antara kami, aku orang yang paling kerepotan. Bagaimana tidak, Selain menenteng dua tas travel yang besar dan berat, aku juga membawa gitar yang disandangkan di bahu. Aku mirip sekali dengan imigran gelap yang ingin pindah negara demi memperbaiki nasib.
Tak lama setelah turun. Kami segera menaiki taksi menuju Jl. Kaliurang, Gg. Kinanti, Sleman, tepatnya Wisma PPKP. Tentunya saat itu Jogja sangat asing bagi kami.

Siang itu, Jogja sangatlah panas. Aku membuka jendela kamar Wisma. Kamar di Wisma itu tidaklah mewah, hanya dua dipan dengan kasur kapuk serta sebuah lemari pakaian dan sebuah meja. Kamar mandi pun terletak di luar kamar. Hari itu adalah hari pertama kami menumpang hidup mengadu nasib di jogja. Hari itu adalah hari pertama aku memutuskan pilihanku hidup di Kota Pelajar itu.

Seiring berjalan waktu, kehidupan personel kami yang delapan orang itu mulai menemukan tantangan-tantangan, ganjalan-ganjalan, maupun keberuntungan.

Yadi, teman sekamarku di Wisma memutuskan kembali ke Kampung setelah berkali-kali mendapatkan “panggilan jiwa” dan panggilan dari keluarganya. Dia pun merasa apa yang dikatakan ortunya adalah yang terbaik bagi hidupnya.
Lalu, ada Datuk yang selalu tampak tidak bisa menikmati kehidupan di Jogja (kok bisa ya?). Dia berpikir lebih baik kuliah di Sumatera yang menurut dia lingkungan di sana sesuai dengan cara hidupnya walaupun aku tahu dia mulai suka dengan Jogja di saat-saat akhir.

Memed, sebenarnya anak ini sudah diterima di peguruan tinggi swasta terkenal nan mahal di Jogja. Tapi apa boleh buat, melalui SPMB, dia diterima peguruan tinggi negeri di Kampung dan langsung dia bersikap mengambil kesempatan itu karena faktor finansial.

Okir, anak yang sedikit keras kepala, kasusnya mirip dengan Memed. Dia diterima di jurusan Teknik Perminyakan di Universitas Swasta di Jogja, bahkan dia sudah membayar uang masuk kuliah. Namun, karena desakan pulang dari ortunya yang merasa susah mengendalikan anaknya dari jauh, maka Okir pulang kampung. Bermodalkan ijazah SMA, Okir menjadi PNS di salah satu kabupaten di Kampung kami. Sedangkan Topik yang memang berniat hanya mengambil bimbel di Jogja, kegirangan bukan kepalang karena diterima lulus sebagai Statistikus di kampus idamannya di Jakarta.

Alhasil hanya ada tiga dari kami yang bertahan di Jogja yaitu, Aku, Aris, dan Ucok. Perlahan tapi pasti, kami meraih mimpi-mimpi kami di Jogja. Ucok yang sejak awal “nothing to lose” dengan kampus negeri, memilih kuliah di Duta Wacana sebagai teknisi informasi. Aris memilih kampus Negeri Jogja sebagai Teknisi Listrik. Sedangkan, aku yang memang berniat masuk Kampus Gadjah, berhasil memasukkan biodataku sebagai ilmuwan komputer kampus Gadjah di aplikasi akademik berbasis grafis-konsol “Pascal” di sebuah komputer tanpa mouse yang ada di kampus Utara. Saat itu, bagiku, aplikasi dan komputer tanpa mouse itu adalah keajaiban, karena mampu menggunakan fasilitas kepunyaan Kampus Gadjah saja, aku sudah bisa bikin keluargaku bahagia di Kampung. Sangat ironis ketika setelahnya aku tahu bahwa aplikasi pascal dan komputer non-mouse itu adalah suatu kegagalan kampus dalam mengimbangi kepintaran para mahasiswa dan dosennya.

Kini Aku, Aris, dan Ucok sudah bukan mahasiswa lagi. Bahkan Aku dan Ucok sudah tidak lagi di Jogja. Kami semua telah bekerja. Kami sudah sulit untuk menikmati kesederhanaan Jogja. Aku masih ingat betapa serunya menonton konser musik gratis di Jogja pertama kalinya bareng Aris. Atau, ketika kami bertiga hanya berjalan kaki ke jalan Solo hanya untuk menikmati malam minggu di Jogja. Atau, bagaimana aku bisa lupa ketika suatu malam Aris bersepeda dari kos-nya di Samirono menuju kos-ku di Ring Road Utara demi menunaikan sahur bareng bertiga. Tentunya si Ucok hanya ikut makan, tidak berpuasa.

Ah! Bagiku, banyak sekali memoar-memoar yang tertinggal di Jogja bagai mozaik-mozaik indah yang berpendar berkilauan. Dan aku yakin tujuh temanku ini, bahkan teman-teman kuliahku yang sudah tidak di Jogja akan seirama denganku, jika diberi kesempatan mengulang kembali ke Jogja untuk sekedar bernostalgia, kami akan melakukannya dengan senang hati.

So, kapan kita jogja lagi, teman?

* note : tulisan ini didedikasikan kepada jogja, gadjah mada, serta tujuh temanku yang berhasil meyakinkan aku bahwa itulah pilihan jalan hidupku.

Gambar diambil dari sini

  1. July 17, 2010 at 2:23 am

    kawan datang silih berganti tapi sahabat tetap dihati…tidak pernah hilang..cerita yang menarik, mantab!

  2. November 23, 2016 at 6:46 am

    banyak juga nih sahabat yang kenal dari jogja,, terutama luar pulau jawa

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: