Minggu lalu, tepatnya Senin, 4 Juni 2007, Aku sedang berada di Jakarta dalam rangka menunaikan salah satu kewajibanku sebagai calon pegawai sebuah perusahaan milik negara yang bergelut di bidang “salur-menyalur”gas alam. Aku diwajibkan melalui sebuah tes wawancara manajemen yang melibatkan bos-bos besar perusahaan itu. Wawancaranya sendiri bakal diadakan keesokan harinya.
Nah, karena Aku tidak tahu lokasi perusahaan ini dan benar-benar asing dengan jalu-jalur bus di Jakarta, maka Aku meminta Uni Sari, kakak pertamaku yang bekerja di sana, untuk menunjukkan cara agar selamat sampai di lokasi dengan sukses.

Untuk mencapai lokasi, aku disarankan naik bus atau yang lebih dikenal dengan nama busway. Hal ini karena jadwal bagianku akan dilaksanakan pagi hari, jam 08.30. Soalnya, bila aku mencoba naik metromini, mikrolet ataupun jenis angkot lainnya kemungkinan untuk telat sangatlah besar. Bagaimana kalau taksi, ojek, atau bajaj? Taksi mah, mahal + macet sudah dipastikan. Ojek, biarpun cepat tapi beresiko kehilangan uang dalam nominal besar. Padahal uang didompetku saat tinggal 25 ribu. Bajaj? Wah apa lagi deh. Dengan bajaj, kita harus melewati gang-gang kecil yang bakal menambah parah situasi maupun kondisi perjalanan nantinya.
Jadi, sesuai tagline-nya, “Tradisi Baru Bertransportasi” dan jaminan akan tepat waktu, maka busway menjadi solusi bagi banyak orang di Jakarta seperti Aku.
Read more…